Opini  

Dari Pengajar Menjadi Pendidik: Tantangan Guru di Era Digital

Drs. Panusunan Tampubolon, M.Pd.
banner 120x600
banner 468x60

Perubahan dalam dunia pendidikan berlangsung sangat cepat. Kurikulum terus disempurnakan, teknologi digital semakin mendominasi proses pembelajaran, dan tuntutan terhadap mutu pendidikan semakin tinggi.

Di tengah berbagai perubahan tersebut, terdapat satu pertanyaan mendasar yang patut terus direnungkan oleh setiap guru : Apakah kita masih memahami tugas pokok sebagai seorang pendidik ?

banner 325x300

Pertanyaan ini penting karena keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, kelengkapan sarana, ataupun perubahan kurikulum.

Faktor yang paling menentukan tetaplah guru. Sebaik apa pun sistem pendidikan yang dirancang, tanpa guru yang memahami hakikat profesinya, tujuan pendidikan akan sulit tercapai.

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menyebutkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.

Menarik untuk dicermati bahwa kata mendidik ditempatkan pada urutan pertama. Hal ini menunjukkan bahwa tugas guru tidak berhenti pada penyampaian materi pelajaran, melainkan membentuk manusia yang berkarakter, berintegritas, dan bertanggung jawab.

Dalam praktiknya, tidak dapat dipungkiri bahwa banyak guru disibukkan oleh berbagai tuntutan administrasi. Penyusunan perangkat pembelajaran, pengisian berbagai aplikasi, penyusunan laporan, hingga berbagai kegiatan administratif sering kali menyita energi dan waktu.

Semua itu memang merupakan bagian dari tanggung jawab profesi. Namun, jangan sampai kesibukan administratif membuat guru kehilangan kesempatan untuk mengenal peserta didiknya secara lebih dekat.

Seorang guru yang baik bukan hanya mengetahui nilai ulangan siswanya, tetapi juga memahami kesulitan belajar, latar belakang keluarga, potensi, minat, bahkan perubahan sikap yang dialami peserta didiknya.

Di situlah letak makna mendidik. Pendidikan selalu menyentuh manusia secara utuh, bukan sekadar kemampuan akademiknya.

Di era digital saat ini, peserta didik dapat memperoleh informasi dari berbagai sumber dalam hitungan detik. Buku bukan lagi satu-satunya sumber belajar, bahkan guru bukan lagi satu-satunya penyampai informasi.

Oleh sebab itu, nilai seorang guru tidak lagi diukur dari banyaknya materi yang disampaikan, melainkan dari kemampuannya membimbing peserta didik agar mampu berpikir kritis, bersikap bijaksana, menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, dan memiliki karakter yang kuat.

Guru juga harus menjadi teladan. Peserta didik lebih mudah meniru perilaku daripada mendengarkan nasihat.

Ketepatan waktu, kejujuran, kesopanan, tanggung jawab, kedisiplinan, kesabaran, dan rasa hormat kepada sesama merupakan pelajaran yang diajarkan setiap hari melalui sikap guru.

Keteladanan adalah kurikulum yang tidak pernah tertulis, tetapi paling lama diingat oleh peserta didik.

Selain itu, guru perlu terus mengembangkan kompetensinya. Dunia berubah begitu cepat sehingga guru harus menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Membaca, mengikuti pelatihan, berdiskusi dengan sesama guru, memanfaatkan teknologi secara bijaksana, serta terbuka terhadap pembaruan merupakan bagian dari tanggung jawab profesional.

Guru yang berhenti belajar akan kesulitan membimbing peserta didik yang hidup di zaman yang terus berubah.

Tidak kalah penting adalah membangun kemitraan dengan orang tua. Pendidikan tidak akan berhasil apabila sekolah berjalan sendiri.

Karakter anak dibentuk pertama kali di rumah, kemudian diperkuat di sekolah, dan diuji dalam kehidupan bermasyarakat. Karena itu, komunikasi yang baik antara guru dan orang tua merupakan salah satu kunci keberhasilan pendidikan.

Menjadi guru sesungguhnya bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan pengabdian. Di tangan guru lahir generasi penerus bangsa. Dari ruang-ruang kelas akan lahir dokter, insinyur, petani, pengusaha, aparat penegak hukum, pemimpin bangsa, bahkan guru-guru pada masa depan.

Setiap kalimat yang diucapkan guru, setiap keputusan yang diambil, dan setiap keteladanan yang diberikan dapat meninggalkan jejak yang membentuk kehidupan peserta didiknya bertahun-tahun kemudian.

Oleh karena itu, marilah kita kembali kepada hakikat profesi guru. Mengajar memang penting, tetapi mendidik jauh lebih penting. Nilai rapor dapat terlupakan, tetapi nilai-nilai kehidupan yang ditanamkan guru akan tetap hidup dalam diri peserta didik sepanjang hayat.

Kiranya setiap guru di mana pun bertugas senantiasa menyadari bahwa profesi ini adalah amanah yang mulia.Ketika guru melaksanakan tugas pokoknya dengan penuh tanggung jawab, ketulusan, dan integritas, sesungguhnya ia sedang membangun masa depan bangsa melalui tangan-tangan generasi muda yang dipercayakan kepadanya.

Penulis: Drs. Panusunan Tampubolon, M.Pd. Pensiunan Guru Matematika SMAN 4 Medan, Pemerhati Pendidikan.

 

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *