BBSNews.id – Langkat – Petani kelapa sawit di Kabupaten Langkat mengeluh setelah harga Tandan Buah Segar (TBS) sejak beberapa hari terakhir anjlok seharga Rp 1.100. dari sebelumnya mencapai Rp 3.080 perkilogramnya.
Penurunan harga TBS dari tingkat petani itu belum diketahui pasti, namun diduga akibat kebijakan pemerintah melarang ekspor Crum Palm Oil,CPO ke luar negeri, pasca minyak goreng langka di masyarakat.
Dari pantauan wartawan, Senin (25/4/2022) dari sejumlah petani kelapa sawit di Kecamatan Bahorok sangat kaget. Karena hanya hitungan hari, harga TBS turun drastis.
Narta, salah satu petani sawit di Kecamatan Bahorok, tidak menduga penurunan harga TBS miliknya hanya seharga Rp 1100 perkilogram. Keluhan lainnya Budi, yang awalnya tidak percaya bila penurunan harga TBS itu terbilang besar.
Ironisnya di hari Jumat (22/4/2022) lalu, harga jual sawit (TBS) dari pengepul seharga Rp 3.080 perkilogram.. Ironisnya keesokan harinya Senin (25/4) harga TBS sudah turun menjadi Rp 1.100 perkilogramnya
Salah satu agen/toke TBS di Bahorok, Pijer Pandia mengaku dirinya hanya mampu membeli TBS dari petani seharga Rp 2050 perkilogram. Penurunan itu tanpa perkirannya karena sangat drastis
Akibat penurunan harga itu banyak agen/toke pengepul TBS merugi karena harga pembelian petani dengan harga di pabrik,sebutnya.
Sementara terkait penurunan harga TBS selain menimbulkan kerugian bagi petani karena harga perawatan berupa pemberian pupuk dan upah panen yang tidak sebanding dengan kos produksi.
Sehingga tidak heran karyawan pemanen gagal mendapat rezeki kenaikan upah ,sesuai janji dari pemilik sawit yang akan menaikkan upah panen namun karebna kembali turun kenaikan u[ah itu terancam,sebutnya (BB-4).
















