Daerah  

Nostalgia Warga Simamora Hasibuan Bersama Toluto Mengenang Ketersediaan Pupuk Hingga Tingginya Hasil Panen

BERNOSTALGIA: Warga Simamora Hasibuan Kecamatan Pagaran bernostalgia dengan mantan Bupati Taput Torang Lumbantobing (Toluto), Kamis (25/4/2024) sore .(Foto dok/Ist).
banner 120x600
banner 468x60

BBSNews.id – Tarutung – Kamis (25/4/2024) sore sekira pukul 15.30 WIB, mantan Bupati Tapanuli Utara dua periode (2004-2009 dan 2009-2014) Torang Lumbantobing (Toluto) mengunjungi Desa Simamora Hasibuan Kecamatan Pagaran Kabupaten Tapanuli Utara.

 

banner 325x300

Suasana desa Simamora Hasibuan di sore itu begitu nyaman dan damai dengan udara yang terasa sejuk karena baru saja hujan berhenti. Sisa air hujan pun masih nampak jelas menggenangi halaman rumah warga dan badan jalan di tengah desa.

Kehadiran Toluto sontak saja mengejutkan warga. Begitu tiba di kediaman mantan Kepala Desa Simamora Hasibuan Sudirman Manalu, gelombang warga berdatangan untuk menyalam.

 

Akhirnya Toluto tidak sempat duduk di kursi yang disediakan tuan rumah untuk menerima kedatangan warga yang memendam kerinduan.

 

Suasana haru pun menjelma dari pelukan hangat dan wajah penuh bahagai terpancar dari wajah-wajah polos khas warga desa.

 

Terucap kata-kata “nga tung masihol hami amang” (kami sudah memendam rindu yang amat dalam). Warga berkisar sepuluh (10) tahun lebih lama tak ada berjumpa bukanlah waktu yang lama.

 

Hal itu mengacu pada masa Toluto mengakhiri jabatannya sebagai Bupati Tapanuli Utara tahun 2014. Kala menjabat Bupati Taput dua periode 2004-2009 dan 2009-2004, warga mengakui bahwa Toluto sangat rajin berkunjung ke Simamora Hasibuan.

 

Kunjungan itu bukan hanya sekedar menemui warga, akan tetapi untuk melihat langsung kondisi warga dan mencari tau kebutuhan hidup warga. Dari apa yang dihimpun langsung dari warga, terkait kebutuhan hidup sehari-hari ditindaklanjuti Toluto melalui Pemkab Taput kala itu dengan menyalurkan berbagai keperluan pertanian.

 

“Dang adong be nuaeng sude amang” (Semua yang sudah habis). Antara lain yang disebut warga tidak ada lagi yakni tanaman kopi yang difasilitasi pemerintah masa Toluto.

 

Menurut warga ada sebidang tanah yang masa itu ditanami kopi hingga menghasilkan buah untuk dipanen menjadi sumber pendapat meningkatkan ekonomi mencukupi kebutuhan hidup.

 

Kondisi tersebut berlangsung hingga berberapa tahun. Namun tiga (3) tahun terakhir tanaman kopi tersebut tidak lagi berproduksi. Hal ini sebagai dampak dari usia tanaman dan yang paling utama faktor perawatan karena sulitnya mendapatkan pupuk.

 

Warga mengeluhkan begitu sulitnya mendapatkan pupuk saat ini. Terutama pupuk bersubsidi yang merupakan hak mutlak yang diamanatkan pemerintah untuk kalangan petani tradisional.

 

Mereka bersaksi bahwa dimasa Toluto menjadi bupati, pupuk bersubsidi tersedia. Tak pernah petani mengeluh soal pupuk. Tanaman yang ditanaman pun tumbuh subur dan harga hasil pertanian stabil bahkan tergolong tinggi.

 

Masa itupun kata warga penyuluh pertanian dari kabupaten rajin turun ke desa-desa membimbing petani. Kalau sekarang, memang juga turun. Tapi hanya untuk memenuhi keperluan laporannya.

 

“Ima namambahen hami torus manghaholongi jala manghasiholi amang” (Inilah yang membuat kami begitu mencitai dan merindukan aman),” ujar warga.

 

Disampaikan, saat ini terjadi kelangkaan pupuk bersubsidi. Adapun yang bisa didapat warga sangatlah terbatas. Untuk pupuk dasar warga dibatasi mendapat pupuk bersubsidi yakni hanya 35 kg per keluarga dan 35 kg pupuk buah periode satu musim tanam.

 

Dengan keterbatas pupuk bersubsidi yang boleh didapat petani, dipastikan tidak mencukupi kebutuhan. Karenanya tidak jarang hasil panen petani turun drastis karena tidak dipupuk dengan baik.

Kalau pun petani ingin mendapat hasil maksimal dari tanamannya harus membeli pupuk non subsidi dengan harga yang sangat mahal. Maka umumnya petani hanya memberikan tanamannya dengan pupuk seadanya karena hanya sedikit yang mampu membeli pupuk non subsidi.

 

“Pupuk bersubsidi inilah yang sangat kami butuhkan sekarang,” sebut warga.

 

Menurut warga, jika kelangkaan pupuk masih terus berlangsung hingga beberapa lama lagi, akan berdampak buruk pada kehidupan masyarakat. Karena umumnya warga Tapanuli Utara menjadikan sumber pendapat ekonomi adalah pertanian.

 

Mendapat keluhan warga soal kelangkaan pupuk tersebut Toluto ikut prihatin dan memotipasi warga untuk tetap tegar dan terus mengerjakan lahan pertaniaannya.

 

“Kalau sekarang kita kesulitan soal pupuk. Mudah-mudahan ke depan ada perbaikan sehingga petani dapat dengan mudah mendapatkan kebutuhan-kebutuhan pertanian,” ucapnya.

Nostalgia warga Manalu Hasibuan dengan Toluto terbawa ke suasana masa lalu penuh keakraban dan kekeluargaan. Tidak ketinggalan menikmati sajian ala kebiasaan masyarakat desa.

 

Duduk di tikar berkisah kehidupan sambil menikmati sajian ubi rebus. “Huhasiholi hami do songon amang manguduti panghobasion di Bona Pasogit on” (Kami merindukan sosok seperti bapak melanjutkan kepemimpinan di daerah kita ini), sebut warga. (Posma).

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *